HADITS 1 ~ KITAB TAIISIRUL ‘ALLAAM ~ Sesungguhnya amal-amal itu hanya berdasarkan niat-niat

BIOGRAFI ULAMA ~ ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ RADHYIALLAHU ‘ANHU
September 18, 2018
5 Jaminan Kepastian Umroh Jogja
September 18, 2018

══════════════════
🔰 FAKULTAS HADITS 🔰
KITAB TAIISIRUL ‘ALLAAM
══════════════════

Hadits Pertama:

عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأةينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

Dari Amirul-Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya amal-amal itu hanya berdasarkan niat-niat dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya kepada dunia yang hendak didapatkannya atau kepada wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dia tuju.”

Penjelasan lafazh:

  1. Innama al-a’mal bin-niyyat. Kata innama mengandung pengertian pembatasan. Dalam hal ini ialah pembatasan sesuatu yang disifati dengan suatu sifat, yaitu penetapan hukum amal berdasarkan niat, yang berarti berada pada satu kekuatan (tidak ada amal melainkan berdasarkan niat) dan menafikan hukum selain itu
  2. An-Niyyah menurut bahasa berarti tujuan. Kata ini lebih sering disebutkan dalam bentuk tunggal di berbagai riwayat. Menurut Al-Baidhawy, niat merupakan ungkapan tentang gerakan hati terhadap sesuatu yang dilihatnya sejalan dengan tujuan untuk mendatangkan manfaat atau menyingkirkan mudharat. Adapun maknanya menurut syariat ialah hasrat untuk melakukan ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
  3. “Barangsiapa hijrahnya…” dan seterusnya merupakan contoh yang menetapkan dan menjelaskan kaidah tersebut.
  4. Kalimat di atas merupakan kalimat syarat.
  5. “Maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya”, merupakan jawaban syarat. Syarat dan jawabannya menyatu karena keduanya berada pada satu gambaran yang lebih jelas: Siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, baik niat maupun tujuan, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, baik pahala maupun ganjaran.

════════════════════════════════════════════════════════════════════════

Makna Global:

  • Ini merupakan hadits yang agung dan menjadi salah satu kaidah Islam, yaitu qiyas yang benar untuk menimbang amal, apakah amal itu diterima atau tidak, seberapa banyak dan sedikitnya pahala amal itu.
  • Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa poros amal pada niat. Jika niatnya baik dan amal itu semata karena mengharap Wajah Allah, maka amal itu diterima. Jika niatnya selain itu, maka amal tersebut tertolak. Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan persekutuan.
  • Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi contoh yang dapat menjelaskan kaidah yang agung ini dengan hijrah.
  • Siapa yang hijrah dari negeri syirik untuk mencari pahala Allah, agar dekat dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mempelajari syariat, maka hijrahnya di jalan Allah dan Allah memberikan balasan karena hijrahnya itu. Adapun orang yang hijrahnya untuk mendapatkan harta dunia, maka dia tidak mendapatkan pahala. Jika hijrahnya untuk kedurhakaan, berarti dia berhak mendapat hukuman.
  • Niat memisahkan ibadah dari kebiasaan. Mandi umpamanya, dimaksudkan untuk mandi janabat, maka itu merupakan ibadah. Jika dimaksudkan untuk membersihkan badan dan agar badan menjadi segar, maka itu merupakan kebiasaan.

Niat dalam syariat mempunyai dua visi:

  • Ikhlas dalam beramal karena Allah semata. Ini merupakan makna yang paling tinggi, dan hal ini menjadi topik pembahasan para ulama tauhid, sirah dan akhlak.
  • Pemisahan sebagian ibadah dari yang lainnya, yang kemudian menjadi topik pembicaraan para fuqaha.
    Ini termasuk hadits jawami’ (kata-katanya singkat namun mengandung makna yang luas), yang perlu diperhatikan dan dipahami. Tulisan yang sedikit tidak akan mampu memenuhi haknya. Al-lmam Al-Bukhary memulai Shahih-nya dengan hadits ini, sebelum masuk ke setiap masalah ilmu dan dalam setiap babnya.

════════════════════════════════════════════════════════════════════════

Kesimpulan Hadits:

  • Poros berbagai amal berdasarkan niat, baik kebenaran, kerusakan, kesempurnaan, kekurangan, ketaatan atau kedurhakaannya. Siapa. yang berniat riya’ dengan amalnya, berarti dia berdosa. Siapa yang berjihad umpamanya, untuk meninggikan kalimat Allah semata, maka pahalanya menjadi sempurna. Siapa yang bermaksud mendapatkan harta rampasan di samping niat itu, maka pahalanya berkurang. Siapa yang bermaksud mendapatkan harta rampasan semata, dia tidak berdosa, namun dia tidak mendapatkan pahala sebagai mujahid. Hadits ini disampaikan untuk menjelaskan setiap amal, baik amal ketaatan dengan suatu gambaran maupun kedurhakaan dengan berbagai ragam niatnya.
  • Niat merupakan syarat fundamental dalam amal, tapi tidak dengan ghuluw (melampaui batas) dalam pengucapannya,yang justru dapat merusak ibadah. Sebab maksud suatu amal cukup dengan niat, tanpa memaksakan diri dengan pengucapannya.
  • Niat berada di dalam hati dan pengucapannya merupakan bid’ah.
  • Keharusan menghindari riya’, pamer, mencari ketenaran dan berbuat untuk kepentingan dunia, karena sebagian dari hal-hal itu dapat merusak ibadah.
  • Keharusan memperhatikan amal hati dan pengawasannya.
  • Hijrah dari negeri syirik ke negeri Islam merupakan ibadah paling utama, jika hal itu dimaksudkan untuk mencari Wajah Allah.

Faidah Hadits:

Ibnu Rajab menyebutkan bahwa amal karena selain Allah ada beberapa macam.

Terkadang dimaksudkan untuk riya’ semata, tidak dimaksudkan selain untuk pamer kepada manusia agar dapat meraup keuntungan duniawi. Yang demikian ini hampir tidak dilakukan seorang Mukmin. Tidak diragukan bahwa yang demikian itu menggugurkan amal dan pelakunya layak mendapat murka dan hukuman dari Allah.

Terkadang amal dilakukan bagi Allah namun juga dicampuri riya’. Jika riya’ ini sudah mencampurinya sejak awal, maka beberapa nash yang shahih menunjukkan kebatilannya, tapi jika dasar amal itu bagi Allah kemudian disusupi riya’ setelah itu, pelakunya juga berusaha untuk menyingkirkan riya’ ini, maka tidak ada perbedaan pendapat bahwa riya’ itu tidak menggugurkan amal.

Para ulama salaf saling berbeda pendapat tentang membiarkan riya’ yang datang di tengah-tengah amalan, apakah riya’ itu menggugurkan amal atau tidak? Apakah pelakunya mendapatkan pahala atas niatnya yang pertama?

════ ❁✿❁ ════

💬 Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan.”
📚 [HR. Muslim, 3509]

══════ 🔰 ══════

🌐 Website : http://www.faharuddin.id/

🌏 Instagram : @faharuddina

📲 WhatsApp : KSOI 1 ~ Ustad Faharuddin
Join WAG : +62878-1246-6899 dengan format : REG spasi NAMA spasi JENIS KELAMIN spasi DOMISILI

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik disini! Hubungi Kami
Whatsapp
Phone
Email