Aisyah RA, Reperesentasi Ulama Perempuan di Zaman Nabi Muhammad SAW

Manasik Haji Sebagai Edukasi Sebelum Ke Tanah Suci
November 10, 2018
Apa Yang Harus Dilakukan Jika Paspor Hilang
Desember 4, 2018

AZKA MUSLIM – Berbeda dengan perlakuan masyarakat Arab pra Islam, perlakuan Nabi Muhammad SAW sungguh berbeda. Sebelumnya, perempuan dianggap sebagai makhluk Allah yang hina, bahkan dalam kelas sosial, derajat perempuan berada pada tingkat paling bawah, sehingga pendidikan untuk kaum perempuan pada saat itu tidak diperhatikan.

Nah, pada saat zaman Nabi, nasib perempuan justru berbeda. Kaum perempuan pada zaman Nabi Muhammad SAW mengalami mobilitas vertikal. Kaum perempuan kemudian memiliki kesempatan luas untuk terlibat dalam berbagai kegiatan di banyak bidang, terutama dalam bidang keulamaan atau keilmuan lain yang lebih luas. Waktu itu, perempuan memiliki peran dan kewajiban yang sama dengan laki-laki, khususnya dalam urusan publik. Dari gambaran kondisi ini, kita melihat bahwa ajaran islam berjalan dengan konsekuen.

Misalnya, soal pendidikan, Nabi Muhammad tak pernah membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan tentang kewajiban menempuh pendidikan.

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim  (lelaki maupun perempuan)” (Riwayat Ibn Majah, al-Baihaqi dan ibn Abd al-Barr).

Salah satu ulama perempuan yang cukup dikenal pada zaman tersebut adalah Aisyah ra. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Aisyah turut memuji semangat perempuan Anshar dalam menempuh pendidikan.

“Perempuan terbaik adalah mereka dari Anshar, mereka tidak pernah malu untuk selalu belajar agama” katanya. (Lihat dalam Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’I). Selain itu, ada pun ilustrasi lain dari ummul mu’minin Ummu Salamah, pernah bertanya soal posisi kaum perempuan dalam Al-Qur’an.

“Kami telah menyatakan beriman kepada Islam, dan melakukan hal-hal sebagaimana engkau lakukan. Jadi mengapa hanya kalian lelaki saja yang disebut dalam Alquran, sementara perempuan tidak?”, sehingga sejak saat itu kaum perempuan memiliki sebutan ‘muslimin wa ‘l-muslimat yang telah dituliskan di dalam Al-Qur’an.

Aisyah ra., bisa dikatakan sebagai reperesentasi ulama perempuan di zaman Nabi. Ia dikenal sebagai perempuan yang kaya wawasan dan ilmu pengetahuan di bidang fiqih, hadis, tafsir, sejarah, dan ilmu astronomi. Perempuan yang mendapat gelar Ummu al-Mu’minin (ibu orang-orang beriman) ini, dinilai sebagai perempuan yang mempunyai pemikiran cerdas sejak masih muda. Aisyah ra., banyak menyerap ilmu dari Nabi. Seringkali para sahabat dan orang-orang yang belajar dengannya, sekaligus menjadi guru tabiin.

Islam tidak memberikan batasan bagi siapa saja untuk menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain.

Foto: http://www.femina.co.id/

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik disini! Hubungi Kami
Whatsapp
Phone
Email